Rabu, 03 Februari 2010

Pagi bersama David


David ini bukan cowok saya.
Bukan juga salah satu teman pria saya.
David kenalan baru saya.
Dia ini anak kecil, memakai seragam SD saat saya menjabat tangannya berkenalan, tadi pagi menjelang pukul 6.

Malam sebelumnya saya baru melihat berita tentangnya di televisi, sebelum pergi tidur.
Ada mamanya juga, di tengah kuli tinta dan fotografer yang berdesakan.
Settingnya di pengadilan.
Mamanya di TV bilang, "Ya untuk ke depannya, saya akan menjaga anak saya lebih baik lagi,"

Produser saya telepon.
"Topik dialog interaktif morning show kamu besok tentang DERITA DAVID, ANAK YANG DIKENAI TINDAK PIDANA GARA-GARA SENGAT LEBAH"
O.
Saya mengerti akhirnya.

Tadi pagi saya bangun subuh, bersiap bertemu bocah ini.
Saya sedang mengakhiri sesi berdandan di ruang make up stasiun TV lokal tempat saya bekerja.
David masuk, digandeng ayahnya, saat kenalan namanya Pak Seno.

Sehabis kenalan, kami warming up.
Saya pikir supaya tidak canggung saat live show sebentar lagi.
David tembem.
Dia juga tidak terlalu pendiam dan pasif.

Oke, saya tidak akan melanjutkan cerita pagi tadi dulu.
Mungkin ada beberapa dari anda yang sebal akibat penasaran akan apa yang sebenarnya saya ocehkan.
Klik ini , baca sekilas.
Sudah manggut-manggut?
Atau mungkin anda menyimak juga beberapa pemberitaan di televisi?
Ini lebih lengkapnya, pakai foto.

David dengan kasus yang menimpanya kemarin, menggelitik saya untuk membawakan dialog pagi tadi dengan tidak biasa.
Saya pikir suatu hal yang ironi dan konyol saja apabila bocah yang masih kelas 3 SD ini diancam hukuman kurung.
Saya tau dia nakal.
Tapi begitukah jalannya?

Mentang-mentang.
Istilah mentang-mentang mungkin cukup representatif (*setidaknya bagi ukuran saya) untuk menggambarkan penuntut.
Kalau ayahnya si Dian Nirmala (teman perempuan David yang kena sengat lebah) adalah salah satu aparat polisi, lalu kenapa?
Ups, maaf, saya tidak bermaksud memancing siapa-siapa di sini.
Jangan-jangan setelah tulisan ini saya unggah, ada aparat yang datang menciduk dan memenjarakan saya atas tuduhan pencemaran nama baik dan lain-lain.
Tapi persetan juga, karena nanti juga pasti banyak teman-teman saya yang sepertinya mulai menggalang pengumpulan koin seperti fenomena barusan. :)

Pagi tadi selama hampir dua jam saya mengajak David untuk cerita-cerita.
Lucu juga saat saya lontarkan pertanyaan, "Gimana dek, rasanya masuk ruang sidang untuk pertama kali?"
David bilang, "Senang,"

Pak Nyoman, ketua Pengadilan Negeri Surabaya yang juga menjadi salah satu narasumber saya pagi tadi juga bilang.
"David ini anaknya pemberani dan tidak pemalu,"

Saya ikut senang putusan pengadilan sudah keluar tanggal 1 Februari kemarin, David diputus bebas.
Memang tidak seharusnya kasus konyol ini diperpanjang dan diaplikasikan jerat hukum yang sedemikian rupa.
David mungkin lebih nakal dari adik laki-laki terkecil saya yang sama-sama kelas 3 SD.
Tapi mereka sama-sama anak-anak.
Bukan kriminil.

David, senang berkenalan dengan kamu.
Kapan-kapan kita masuk TV lagi ya (*tentu bukan perkara kasus lagi, OK?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar