Senin, 08 Februari 2010

love me for me


1 Februari 2010.
9.31

malam itu saya memutar kembali sebuah lagu yang sdah cukup lama tidak saya sentuh di folder lagu di laptop saya.
Love Me For Me, lagu Ashley Tisdale dari album Headstrong, solo album pertamanya yang rilis sekitar 2008 lalu.
saat lagu ini mulai mengalun, memori saya seolah diseret jauh ke belakang.
kembali pada masa-masa masih sering memutar lagu ini.
masa-masa saat masih diliputi kekecewaan yang menyesakkan soal betapa pria yang pernah saya sayang tidak pernah bisa
menerima apa adanya saya.
seutuhnya saya.

pasca patah hati dulu, sering sekali saya memutar lagu ini, sebagi refleksi emosi mungkin.
"Love me for me, not for someone that I would never be..,"
liriknya terasa sungguh pas tiap kali saya mengingat salah satu fase dalam hidup saya itu.
mungkin seorang Ashley Tisdale merasakan apa yang pernah rasakan itu.
atau mungkin anda yang saat ini tengah membaca ini, merasakan kesesakan yang sama.

rasa berontak yang didedikasikan kepada sekelompok pria yang menuntut lebih dari apa yang sudah ada pada diri kita, wanita.
selalu ada yang tidak tepat akan fisik kita, tabiat, dan kebiasaan kita.
saya tidak menyebutkan 'selalu ada yang salah', karena itu semua memang bukan kesalahan.
hanya tidak cukup saja.

keutuhan lirik lagu Love Me For Me nya Ashley Tisdale bisa terjadi pada siapa saja.
masih saya ingat dengan jelas betapa dulu saya sempat menjadi pribadi yang depresi dan minder.
saat merasa tidak diterima secara utuh oleh pria yang menjadi teman dekat (*baca: pacar)
semua perempuan pasti senang diistimewakan.
tapi harus siap juga saat suatu hari ada yang jauh lebih istimewa.

saya dan anda, kita para perempuan.
mungkin bukan yang terbaik, tapi kita adalah satu-satunya.
bahasa inggrisnya one of a kind.
jadi intinya sebenarnya kita ini spesial dan istimewa.
tidak ada alasan pria manapun menjatuhkan kepercayaan diri dengan membandingkan dan melecehkan keadaan kita.

saya ingat betul ketika salah seorang teman datang pada saya dengan air mata dan curahan hati.
pacarnya mengungkapkan seharusnya dia lebih kurus dari badannya saat ini.
mau dibilang apa, saya cuma bisa mengangkat bahu.
dulupun saya mengaku pernah mati-matian melindungi kulit dengan jaket tiap ada di luar ruangan.
karena tuntutan mantan pacar akan kulit tubuh yang lebih cerah.
tapi sekarang persetan.

teman saya dan saya bukan dua-duanya.
banyak juga teman perempuan saya yang biasanya memilih menjadi orang lain demi prianya.
ada yang bertransformasi menjadi Nona Sepatu Hak Tinggi dari seorang pribadi yang kasual dan tomboi.
saya terhenyak juga saat koleksi sepatu hak tingginya bertambah jenis.
setau saya dulu dia cuma memakainya ke kondangan atau minimal ke gereja.
sekarang tidak lagi, sepatu datar dan sneakers sudah disimpan.

"I'm not the girl that you see in the magazine.
Perfect face and perfect body."
adalah sepenggal lirik pada lagu Love Me For Me.
definisi cewek sempurna seolah menjadi impian yang dikejar saat saya dan beberapa perempuan lain terkungkung dalam lingkaran itu.
namanya lingkaran cinta naif, ada yang bilang lingkaran cinta buta, dan macam-macam lagi.
jangan cuma bicara fisik yang standarisasinya harus dinaikkan, kebiasaan dan pribadi juga dibawa-bawa.
saya tidak pernah suka semua lagu yang diputar di audio mobilnya.
selera musik saya dengan mantan sangat antipati.
tapi cinta membuat saya menghormati dan menyukai segala yang tidak saya sukai.
itu biasa dan bukan hal aneh.
yang sedikit keterlaluan adalah ketika selera musik saya lama-lama dilecehkannya.
menurut anda dan beberapa orang, termasuk dia, mungkin selera musik saya aneh dan tidak pas untuk perempuan.
dia selalu mengeluh kadang mengomel tiap kali giliran saya memutar album My Chemical Romance, Paramore atau lagu B.Y.O.B milik System of A Down.
menurutnya itu musik keras yang terlalu kasar (atau terlalu preman) untuk kami dengarkan dan terlalu ekstrim untuksaya idolakan.
batas toleransi musik rock baginya hanya sampai pada Linkin Park (album keluaran baru, bukan album-album awal mereka yang masih cadas dan keren)
....

... (bersambung, masih lelah.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar